logo mediaplannerid

Resolusi 2024: Hybrid Workflow As A Digital Content Creator

Tahun 2024 bakal gue pegang kalau didukung dengan workflow yang lebih efektif dari tahun-tahun sebelumnya. Pakai cara ini, it’s work for me.

Hybrid Workflow As A Digital Content Creator in 2024

Ini formulasi teknis yang gue susun sebagai digital-content creator yang bekerja dilingkungan Pemerintah: (1) Bikin motion graphic assets satu sampai dua motion per hari; (2) iPad centris, artinya pekerjaan video editing di-finishing pada perangkat iPad. Cara ini bakal berhasil kalau didukung dengan motion graphic assets yang udah siap pakai, sebagaimana dimaksud pada angka (1). Sehingga dengan metode ini, gue gak ketergantungan dengan laptop saat harus “langsung editditempat Dinas Luar (DL); selanjutnya adalah (3) Team up, bangun sebuah tim yang memiliki determinasi tinggi dalam menghasilkan karya-karya yang terbaik. Kita sepakat bahwa suatu pekerjaan bakal punya output yang luar biasa ciamik kalau dikerjakan oleh beberapa orang yang skillful dalam bidangnya.

Secara empiris, “rumus” workflow itu gue bikin sebab termotivasi oleh pengalaman tugas dipenghujung 2023. Di mana gue berada dalam kondisi yang dituntut untuk segera menghasilkan video Reels kegiatan Menteri, ga masalah, gue bisa. Tapi ada kendala teknis yang menghambat speed kerja. Bener-bener belum pernah gue alami sebelumnya. Phew, alih-alih kerja cepet, konten yang dalam keadaan normal bisa gue kerjain dengan durasi 1 sampai 4 jam, malah baru selesai pada H+2. Pengalaman itu, semoga gak dicatat sebagai kelalaian.

Pasti akan muncul pertanyaan: Kenapa bisa selama itu? Udah gue tulis disini: Edit Video Portrait Jadi Landscape di CapCut.

Menurut elu, apa lagi yang musti gue tambah dalam rumusan gue tadi biar workflow nya makin enak?

Ikhtisar 2023

Disamping itu, ini ikhtisar menarik yang gue dapetin selama 2023. Pertama, orang dipuji karena kinerjanya, tapi ada juga yang dipuji atas keahliannya untuk menutupi kekurangan orang tersebut.

Benar kah “ahli/expert” dalam satu hal? Gue coba kasih beberapa contoh kalimat: (1) ahli (expertise) atau mumpuni dalam suatu hal; dan (2) cuma bisa itu doang. Dari dua contoh kalimat tersebut, kerasa gak bedanya? Jadi seseorang yang dielu-elukan itu, apakah dia benar-benar expert dalam satu hal atau cuma bisa itu-itu doang? Semoga ini menjadi renungan bagi kita untuk terus muhasabah (evaluasi) dan ishlah (melakukan perbaikan).

Kedua, berkinerja dengan standar kualitas tertentu, itu bagus. Tapi sebagian orang justru gak suka kalau punya kolega yang “workaholic“. Janggal rasanya, ketika ada seseorang yang hasil kerjanya bagus, maksimal, totalitas, malah dianggap ganggu budaya kerja yang existing.

Bisa jadi sebenernya seseorang itu gak juga workaholic. Tapi dirinya sebatas mencintai dan bangga atas profesi-nya. Hal tersebut dapat dilihat dari sejauh mana upaya seseorang sejak awal sejarah kariernya hingga waktu sekarang dalam hal: (1) level-up-skill; (2) demi mendukung workflow yang selalu diperbarui formulasinya agar semakin efektif.

Terus berusaha ningkatin skill yang ada, dan nambah yang baru. Bisa jadi, apa yang dia perbuat memang i’tiqad-nya untuk kebanggaan dan kepuasan hati atas hasil kerja (personal mau pun team) yang baik.

Key takeaway: (1) Semakin lama “jam terbang” seseorang, maka semakin efektif pula workflow yang dia miliki; (2) Gak punya future-skill? Perlu segera dipenuhi. (AFN/ADTY)

Mediaplanner.ID

Mediaplanner.ID

Content Creation Provokers

konten terkait